(REVIEW) To Kill a Mockingbird

Judul: To Kill a Mocking Bird
Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Qanita
Cetakan: September 2015
Tebal Buku: 396 halaman
ISBN : 978-602-1637-87-6

IMG_2055

Sekilas kisah

To Kill a Mockingbird menceritakan tentang keluarga Atticus Finch yang tinggal di Maycomb County, Alabama, pada 1930-an bersama dua anaknya, Jem dan Scout. Atticus yang merupakan seorang pengacara hidup di tengah zaman rasisme yang sangat kental kala itu. Orang kulit hitam merupakan kasta terbawah dan itu bisa dilihat dari pembantu rumah tangga Atticus, Calpurnia yang jadi salah satu contohnya.

Sepanjang membaca novel ini, narasi Scout lah yang mendominasi. Scout sehari-hari bermain bersama Jem, kakaknya. Lalu munculah Dill, teman baru yang datang dari luar kota saban liburan musim panas. Hingga suatu hari, Dill mengetahui ada tetangga Scot dan Jem yang misterius bernama Arthur ‘Boo’ Radley dan ingin mengetahui seperti apa kehidupannya.

Di sela-sela upaya ketiga bocah itu untuk menguak kehidupan Boo, dikisahkan juga tentang kehidupan Scout dan Jem di sekolah. Tentang bagaimana Scout tidak menyukai gurunya karena melarang dia untuk belajar membaca di rumah. Lalu bagaimana Jem tumbuh dewasa seiring usianya dan mempelajari hal-hal baru di sekolah.

Sementara sang ayah, mendapat tugas baru dari hakim pengadilan kota untuk menjadi pengacara dari terduga pemerkosa anak dari salah satu warga. Tom Robinson, klien Atticus merupakan orang kulit hitam yang dituduh memerkosa Mayella Ewell, warga kulit putih.

Di sekolah, teman-teman Scout pun mengejek ayahnya karena mau menjadi pengacara Tom. Beberapa kali Scout akhirnya marah karena mendengar teman-temannya menyebut Atticus sebagai pecinta niger. Padahal Scout sendiri tidak paham apa arti dari pecinta niger.

Atticus sendiri tidak mempermasalahkan itu dan meminta baik Scout dan Jem untuk paham bahwa adalah tugasnya lah sebagai pengacara untuk membela Tom yang jadi kliennya. Atticus sendiri yakin bahwa Tom tidak bersalah dan dia berjanji untuk membuktikannya di pengadilan.

Scout dan Jem pun diam-diam menyelinap ke ruang persidangan, melihat ayah mereka yang dapat menunjukkan ke para juri bahwa Tom tidak bersalah. Dalam persidangan sehari penuh itu, para juri pun diminta untuk membuat putusan oleh hakim. Di ruang sidang yang pengap dan sempit, Scout dan Jem akhirnya melihat sendiri mana yang benar dan yang salah.

Review

Kata mockingbird dari judul yang dibuat oleh Harper Lee terasa familiar karena mirip dengan judul di salah satu seri film The Hunger Games, Mockingjay. Karena itu lah saya membelinya walau pun ngga ada hubungannya sama sekali. Selain itu saya sering banget denger soal To Kill a Mockingbird kalau lagi internetan.

Satu hal yang saya tau adalah buku itu terbitan jadul. Dirasa jarang nemu, saya beli aja. Entah kapan bacanya. Sampai akhirnya saya coba baca pelan-pelan dan merasa alurnya sangat bagus. Ada rasa penasaran apa yang ada di halaman-halaman berikutnya.

Saya sangat suka bagaimana Lee mengisahkan kehidupan keluarga Atticus. Lee mampu menjaga keseimbangan dengan memperlihatkan Atticus yang sibuk kerja, tapi bisa tetap membagi waktu untuk menjadi ayah bagi Scout dan Jem. Karakter Atticus juga sangat mantap digambarkan oleh Lee.

Atticus juga banyak quote yang wow, salah satunya: Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya … hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.

Sementara dua anaknya, yang selalu bermain sesuai usia mereka, sangat lucu. Mereka akrab dengan Calpurnia yang masuk golongan kulit hitam, suka bercengkerama dengan tetangga-tetangga. Sangat disayangkan mereka hidup di zaman yang keras dan harus menonton praktik rasisme yang terkadang membuat mereka marah dan sedih. Tapi, bagaimana mereka bersikap akhirnya ditentukan oleh arahan logis Atticus.

Saya sangat sulit untuk menemukan kelemahan dari cerita yang dibuat Lee ini. Bahkan saya masih memperdebatkan endingnya. Dan benar saja, memang ending dari To Kill a Mockingbird jadi viral di dunia maya. Tapi, ya ngga apa-apa, setiap pembaca jadi punya versinya sendiri-sendiri.