Setuju tidak Setuju UN Dihapus

Sebagian anak Indonesia yang beruntung bisa mengenyam pendidikan pasti pernah merasakan panik selama beberapa bulan menjelang Ujian Nasional (UN). Setelah menyelesaikan ujian selama tiga hari, mereka panik lagi sampai waktu pengumuman.

Begitu terus yang terjadi setiap tahunnya. Bahkan sejak UN dulunya pernah disebut Ebtanas pada era akhir pemerintahan Soeharto dan kemudian diubah menjadi UAN sejak awal 2000. Mereka yang lulus, boleh melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dari SD ke SMP ke SMA ke bangku kuliah.

Akhir tahun ini, muncul wacana dari pemerintah untuk menghapuskan UN. Alasannya, antara lain karena UN belum dapat menjadi instrumen peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, terlalu banyak memakan anggaran, dan bahkan setiap pelaksanannya diduga selalu terjadi kecurangan.

Memang, sebagian orang ada yang sepakat jika UN dihapus. Argumennya, ialah karena tidak logis menentukan anak bisa lanjut ke tingkat sekolah yang lebih tinggi hanya dengan ujian tiga hari. Lalu, untuk apa sekolah selama tiga-enam tahun.

Kemudian, soal kecurangan juga sudah bukan rahasia lagi. Naskah ujian bahkan sempat bocor pada 2015. Diketahui dari 11.730 paket soal ujian, 30 di antaranya nongol di dunia maya. Anies Baswedan yang kala itu masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengatakan kebocoran soal UN selalu terjadi setiap tahunnya.

Tapi, penghapusan UN itu hanya sementara alias sekadar moratorium. UN akan diadakan lagi kalau level pendidikan di Indonesia sudah merata. Selama tidak ada UN, konsep ujiannya ialah dikembalikan ke masing-masing pemerintah daerah.

Karena masih wacana, akhirnya pemerintah mengeluarkan keputusan akhir. Moratorium UN tidak jadi dilaksanakan karena pemerintah belum memiliki alternatif lain untuk meningkatkan dan mengetahui mutu pendidikan di Indonesia

Wakil Presiden Jusuf Kalla, pun mengatakan yang perlu dilakukan sekarang ialah mengeavaluasi pelaksanaan UN. Tapi, apa yang perlu dievaluasi? Apakah bisa mengevaluasi juga ketegangan anak-anak yang stres menjelang UN dan makin heboh karena tidak lulus sementara teman-temannya bisa tertawa lepas.

Sebenarnya, kebanyakan guru pasti ada yang pernah mengatakan bahwa soal-soal yang muncul saat UN, levelnya lebih mudah ketimbang ujian harian atau yang diselenggarakan per semester. Lantas kenapa juga harus takut tidak lulus?

Memang ada sebagian anak-anak yang tetap tidak mengerti bagaimana bisa menjawab dengan benar. Makanya mereka memilih untuk mengambil les tambahan. Pada akhirnya, pilihan itu sebenarnya menunjukkan bahwa kualitas belajar mengajar di Indonesia belum bisa disebut baik.

Jadi, agar UN akhirnya tidak disebut lagi sebagai pemutus harapan sang anak, lebih baik evaluasi juga kegiatan belajar dan mengajar yang ada sekarang. Sehingga tidak ada lagi ke depannya, omongan-omongan yang pro dan kontra mengenai UN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s