life

Awas Berita Hoax!

Beberapa bulan belakangan ini saya sedikit pusing dengan berita-berita soal media sosial. Isinya ngga lain dari penyalahgunaan media sosial untuk menyebarkan informasi bohong.

Lebih parahnya, yang konsumsi berita bohong itu langsung percaya. Jadilah kekisruhan. Seperti halnya lidah, susah juga menjaga jemari supaya ngga ngetik sembarangan di media sosial.

Saya pribadi jadi agak takut untuk pakai media sosial lagi. Soalnya takut dianggap menyebar berita bohong alias hoax dan parahnya dikira pencemaran nama baik.

Saya memutuskan jadi silent reader ajah. Walaupun saya sering dapet banyak berita bohong dan agak mual juga bacanya. Kenapa? Karena bahasa yang dipakai oleh pembuat berita bohong tuh berlebihan.

Contohnya:

Tolong beritahukan anak2, suami, isteri, dan semua teman2mu. Perhatian: Mulai saat ini jangan makan makanan kaleng2an, terutama buah2an, khususnya produksi negara xxx. Karena di negara ini ada kira2 dua ratus orang pengidap aids kerja di pabrik kalengan, dan mereka masukkan darah mereka ke dalam kaleng2an itu, dan saat ini masalah tersebut telah diketahui DepKes negara xxx sehingga kaleng2an tersebut telah banyak di sita ttpi lebih banyak yg sdh terlajur diekspor. Contoh: Lecy, rambutan, lengkeng, mangga puding, dll. Setelah terima bbm ini cepat kirim ke saudar2 n teman2mu semua. Agar tidak konsumsi kalengan apapun… Demi keselamatan kita semua.

Itu satu contoh yang saya dapat dari internet. Negaranya sengaja ngga saya cantumkan dan broadcast info itu datang katanya dari kementerian kesehatan Indonesia.

Tapi, bisa diliat kan itu bagaimana tutur bahasanya. Kalau memang itu resmi, masa iya kementerian kesehatan pakai kata-kata yang disingkat saat menyampaikan info resmi. Lebih dari itu, bahasanya tuh LEBAY!!! Saya aja geli bacanya, hahahaha!

Jadi, kita harus bisa lah pilah-pilah informasi. Biar apa? Biar hidup kita happy dan ngga kesel diboongin sama berita hoax. Yuks ah.

Who can’t Save Money? Men or Women?

My mom told me that men stuff are more expensive than women’s. I dont know why, but when I looked back to all my belonging, I thougt what my mom said is true.

I always prefer and tempt to luxury things because the quality and I believe price tag never lies. Despite I know that those will be lost or broken or can not be used someday.

For example, I usually buy three socks that cost about Rp150.000 (US$15). That means price for a sock is US$5. Do I exactly have other option? Yes of course. There are a lot of sock seller on the street who offers only US$1 for a sock.

So why I choose price that more expensive? Because I have tried the US$1 socks and just for a week or a month, those are ripped. But that is not happened when I buy the US$15. The condition can be seen at least a year after the purchase.

If I buy the cheapest and that ripped every week after I buy, I think that will be more expensive. Because I need to spend US$52 for a year. And that example can be applied to other things.

We buy the cheapest but need to change often and finally realized that spend more money. Better we buy once but can be used for a long time and can use the money for others.

PS: I think I do not need to talk about women’s habit when they go shopping. They are expert in term of waste the money for everything, usefull or not. #nooffense