online

Protes

Dari sekian banyak hal yang bisa diprotes dari diri saya, yang temen2 suka komplain justru soal iritnya saya kalo lagi ngobrol di whatsapp atau instant messenger lainnya. Saya kalo dibilang begitu cuma bisa ketawa aja, hahaha.

StockSnap_HP2MPJT5B6

Josh Felise/stocksnap

Contohnya kayak di bawah ini.

A: Bud, menurut sampeyan, jokowi itu bisa gemuk ngga ya?

Saya: Bisa.

Atau

A: Bud, tadi nelpon? Kenapa? Sori ga keangkat, lagi ke luar planet.

Saya: Gpp.

A: Gpp kok nelpon?

Saya: Ya gpp.

Dua contoh di atas itu menurut temen2 saya sangat keterlaluan, hahaha. Kalau diitung karakternya, lebih banyak mereka. Jadi ketika gue jawab serba singkat, bagi sang lawan bicara itu artinya gue males lah, irit ngomong lah, pelit lah padahal itu bukan sms, dsb.

Entah kenapa emang saya begitu orangnya. Lagian namanya juga short message alias pesan singkat. Kalo mau ngomong panjang lebar bisa by phone atau tatap muka. Yaa sesekali ada sih saya ngetik ampe panjang banget.

Saya sendiri lumayan jarang pegang hape. Biasanya pas lagi ketemuan sama temen2 pun hp ada di kantong celana atau di dalem tas. Kadang kalo lagi ikut jamuan, saya taro meja dengan posisi belakang hape yang menengadah.

 

Belanja Online?

Baru-baru ini, sebuah artikel di salah satu media cetak mengulas tentang e-commerce dalam rangka ajang diskon akbar saat Hari Belanja Online Nasional atau Harbolnas yang digelar selama tiga hari sejak Senin (12/12).

Topik itu sekarang memang sedang hangat-hangatnya mengingat perkembangan teknologi sudah sangat cepat. Adanya internet dan pernak-pernik di dalamnya serta maraknya penggunaan gadget canggih membuat aktivitas ekonomi bisa dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Mau beli pulsa? Bisa lewat e-banking. Beli makanan? Pakai ojek online. Beli tiket pesawat dengan harga yang murah? Buka saja situs-situs yang menyediakannya. Bayar tol? Sudah bisa pakai kartu. Apalagi beli barang-barang yang diinginkan, banyak sekali toko-toko yang sudah melayani pembelian online.

Melihat itu, beberapa bank pun menilai bahwa e-commerce di Indonesia sangat menjanjikan. Mereka berlomba-lomba menawarkan berbagai solusi pembayaan secara online agar masyarakat bisa nyaman berbelanja. Promo-promo menarik bahkan bertebaran setiap bulannya.

Hanya saja, saat ini masyarakat rupanya masih belum bisa beralih dari pola konvensional, yaitu dengan membeli barang secara langsung, membayar dengan kertas atau logam. Adanya rasa tidak percaya dengan sistem online turut jadi salah satu hambatan terbesar bagi e-commerce untuk berkembang di Indonesia.

Selain itu, masih minimnya akses teknologi informasi di beberapa wilayah di Tanah Air juga jadi faktor penghambat lainnya. Kecepatan internet di Indonesia bahkan tertinggal jauh dari negara-negara anggota ASEAN. Jika demikian, pertumbuhan e-commerce di Indonesia tidak bisa diprediksi sampai kapan pun.

Sudah pasti peran pemerintah sangat diharapkan agar bisa membuat e-commerce jadi sebagai salah satu alternatif bisnis. Pemerintah juga sebaiknya sadar bahwa gelombang e-commerce tidak bisa dibendung. Buktinya toh sudah disebutkan di atas.

Adanya regulasi yang menjadi payung hukum, tentu akan membuat para pelaku bisnis e-commerce dirangkul kepentingannya secara legalitas dan masyarakat menjadi percaya saat berbelanja secara online. Kemudian, fasilitas pendukungnya juga harus dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat terutama di daerah terpencil.

Harbolnas setidaknya harus jadi momentum agar masyarakat semakin teredukasi dengan belanja online yang sebenarnya sangat mudah teknisnya karena sebenarnya tidak perlu repot-repot keluar rumah kan.