review

(REVIEW) Murder on the Orient Express

Dah lama ngga review film di mari. Sebenernya dah lama juga ngga ngeblog. Kali ini mumpung lagi libur kerja, ada film baru yang saya mau ulas karena baru aja saya tonton beberapa hari lalu. Judulnya, Murder on the Orient Express. Karena judulnya ada kata murder, bukan berarti ini film horor.

MV5BZjgyOTg2MDgtMGUwMC00NTIwLWIwYmMtMDNjMmZmMDE2NThmXkEyXkFqcGdeQXVyMjExMjk0ODk@._V1_SY1000_CR0,0,664,1000_AL_

Source: IMDB

Film yang disutradarai oleh Kenneth Branagh, ini adalah adaptasi dari salah satu novel bikinan Agatha Christie. Bukunya dirilis Januari tahun 1934, jauh sebelum kids jaman now lahir, dan udah pernah dibawa ke layar lebar tahun 1974.

Ceritanya sederhana. Ada sebuah pembunuhan di kereta api. Tokoh utama dari cerita ini, adalah Hercule Poirot (Branagh), jadi detektif yang harus menemukan siapa pembunuhnya. Cukup rumit untuk memecahkan kasus ini karena ada banyak penumpang yang bisa jadi pelaku. Saya akui, ending dari film ini yang pastinya ngasih tau siapa yang jadi pelaku pembunuhan cukup mengejutkan. Apalagi saya belum pernah baca novelnya, jadi ngga tau ceritanya.

Singkat kata, film ini cukup menghibur. Tapi, saya kasih bintang 5 dari 10 bintang karena selain plot cerita ngga ada yang spesial. Bahkan walau si Branagh menghadirkan banyak bintang film ternama, seperti Johnny Depp, Penélope Cruz, Leslie Odom Jr, Olivia Colman, Josh Gad, Michelle Pfeiffer, Willem Dafoe, tetep ngga terlalu nambah poin.

Selain itu, film ini juga ingin seolah ingin menyaingi Sherlock Holmes (versi series yang tayang di BBC) yang terkenal suka membuat deduksi. Di awal cerita, ada Poirot membaca profil salah seorang penumpang. Lalu, di tengah cerita, direktur kereta api memotivasi Poirot agar melakukan rutinitasnya saat mau memecahkan kasus.

Satu hal lain, saya entah kenapa selalu keinget dengan Martin Freeman pas liat Poirot. Mukanya mirip banget. Tapi, si Branagh sendiri lumayan ok meranin Poirot, ada sisi humoris yang ditonjolin. Kalo Depp, ngga ada unsur konyol seperti di film lain yang pernah dibintangin dia, jadi seolah bukan Depp.

 

 

(Review) X-Men: Apocalypse yang Biasa Ajah

DISCLAIMER: LITTLE BIT SPOILER INSERTED!!!

Setelah nonton X-Men: Days of Future Past, saya bener-bener penasaran sama X-Men: Apocalypse.

Screen Shot 2017-05-01 at 7.38.10 PM
Source: IMDB

Pas liat trailer Apocalypse, saya pikir filmnya akan sangat wow. Bakal ngeliatin mutan terhebat di dunia. Bakal menyajikan the apocalypse atau the end of the world.

Eh, rupanya ekspektasi saya terlalu tinggi. Ini film rupanya prolog tentang murid-murid Profesor Charles, seperti Storm dan Cyclops. Di film ini, Storm dan Cyclops diperlihatkan masih muda. Storm diperankan Alexandra Shipp. Sementara Cyclops diperankan Tye Sheridan.

Setting cerita di film ini sedikit maju dari Days of Future Past atau beberapa tahun setelah Magneto nyerang presiden amerika. Saat itulah bangkit mutan bernama En Sabah Nur yang tidur sejak sekitar 3.000 tahun sebelum masehi.

En Sabah Nur udah muncul sejak awal film yang berdurasi kurang lebih 2 jam ini. En Sabah Nur saat itu ada di Mesir dan diagung-agungkan sebagai dewa oleh rakyat di negari piramid itu. Tapi, dia dikhianatin sama anak buahnya. Mutan jadul itu dikurung dan tidur ribuan tahun di bawah tanah.

Setelah bangun, dia mulai ngumpulin anak buah, salah duanya adalah Storm dan Magneto. Terus, En Sabah Nur belakangan jadi tertarik dengan kekuatan Profesor Charles dan nyulik profesor botak itu. Nah, karena ini cerita X-Men lawas, jadi Charles juga masih muda, masih James McAvoy seperti di Days of Future Past.

Selebihnya, terlalu drama. Saya kecewa sama Bryan Singer selaku sutradara. Kurang action, dude! Selain itu ngga terlalu banyak gambar dengan efek memukau yang dikasih liat ke penonton.

Overall film ini bagi saya ngga menghibur. Saya kasih nilai 5 dari 10. Eh, tapi nilai 6 deh dari 10, soalnya Sophie Turner yang memerankan Jean Grey lumayan cantik, hehehe.